Home » Uncategorized » Hati-hati dengan Film Produksi Hanung Bramantyo, Banyak Frame Sudutkan Ajaran Islam

Hati-hati dengan Film Produksi Hanung Bramantyo, Banyak Frame Sudutkan Ajaran Islam

Sutradara Hanung Bramantyo | Foto: Kompasiana

Berita Selebriti – IndoNewsToday.com, Hobi nonton film bukan menjadi masalah, justru menonton film bisa membuat mata kita menjadi lebih fresh. Menonton film juga dapat menjadi wahana pendidikan, terutama pendidikan umat islam, dan umumnya film selalu dijadikan sebagai alat kampanye, selain fungsi utamanya yakni menjual materi karya seni dalam pertunjukan modern di seluruh bioskop di Indonesia.

Namun perfilman di Indonesia hingga saat ini tidak banyak yang mendidik, banyak jebakan frame yang menyudutkan agama tertentu. Seringkali film dijadikan alat untuk mempengaruhi mereka yang gemar menonton film. Hingga mampu mengubah sifat dan karakter penontonnya.

Simak saja karya film besutan Hanung Bramantyo banyak frame (tayangan-tayangan) yang menyudutkan ajaran islam. Contoh kecil, salah satunya adalah Perempuan Berkalung Sorban (PBS). Film yang dibintangi aktris Revalina S Temat (Annisa) tersebut diambil dari Novel PBS karya Abidah El Khaleqy. Novel PBS sebelumnya mendapat penghargaan dari The Ford Foundation, sebuah NGO yang memperjuangkan faham Sepilis dan dikendalikan kaum Zionis Yahudi AS.

Film tersebut mengisahkan kebobrokan pesantren dan kiyainya. Pesantren dan kiyainya dicitrakan kotor, sumber penyakit, sangat bengis, mudah main pukul, mengekang perempuan, mengekang hak berpendapat, menempatkan perempuan pada martabat yang rendah, suka main bakar buku-buku komunisme, suka main hukuman rajam secara serampangan dan sebagainya.

Dikisahkan, seorang santriwati yang juga putri kiyai pesantren, Annisa, dan tinggal di kompleks pesantren, frustasi karena ulah suaminya yang juga anak seorang kiyai yang sering melakukan kekerasan, akhirnya memutuskan untuk kembali dalam pelukan mantan pacarnya, Khudori, seorang alumnus sebuah perguruan tinggi di Kairo, Mesir. Bahkan Annisa yang sudah kebelet, mengajak Khudori untuk melakukan adegan ranjang di sebuah kandang kuda di pesantren tersebut, padahal kandang itu penuh dengan kotoran kuda. “Zinahi aku…Zinahi aku…!”, desak Annisa kepada Khudori sambil melepaskan jilbab dan pakaiannya satu persatu.

Ketika kedua insan lain jenis dan bukan suami istri tersebut sedang melakukan perzinahan, akhirnya datang rombongan santri dan suami Annisa mengerebeknya. Lalu keduanya mendapat hukuman rajam dengan dilempari batu oleh para santri. Lemparan batu baru berhenti setelah ibu Annisa berteriak sambil mengatakan, “ yang boleh melempar batu hanya orang yang tidak pernah melakukan dosa!”, padahal tidak ada orang yang tidak pernah melakukan dosa. Kata-kata dari ibu Annisa ini jelas mengutip dari cerita Kristen dari Kitab Injil, dimana dikisahkan seorang pelacur, Magdalena, dihukum rajam dengan dilempari batu. Kemudian datang Nabi Isa (Yesus) untuk menyelamatkannya dengan mengatakan, “yang boleh merajam hanya yang tidak punya dosa”. Jadi selain berbau Sepilis dan Komunis, film PBS juga beraroma Kristiani dan berusaha menghancurkan Islam lewat pintu budaya melalui film.

Jelas dengan menampilkan hukuman rajam yang sebenarnya tidak ada dalam novel aslinya, Karl “Hanung” Mark ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk membenci syariat Islam dan pesantren, sebab sejak dulu pesantren merupakan basis terkemuka dalam melawan gerakan PKI di Indonesia. Padahal itu hanya utopia dirinya sendiri, sebab selama ini belum pernah ada satupun pesantren di Indonesia yang melakukan hukuman rajam kepada santrinya yang melakukan perzinahan. Seolah-olah pesantren merupakan negara dalam negara dengan menegakkan hukumnya sendiri. Jelas ini merupakan distorsi terhadap hukum Islam dan upaya mengadu domba umat Islam dengan pemerintah.

Dengan membuat film PBS, sesungguhnya Karl “Hanung” Mark telah melakukan anarkhisme psikis, yakni melakukan penyerangan secara psikis terhadap umat Islam dan pesantren sebagai salah satu simbol Islam di Indonesia. Karena dendam terhadap pesantren yang telah berjasa menghancurkan PKI, maka Hanung menyalurkan perlawanannya lewat film PBS. Hanung dengan sengaja telah menebar virus ganas Sepilis dalam film, tujuannya untuk menimbulkan citra buruk terhadap Islam dan umatnya sambil menebalkan kantong koceknya.

Hanung Bramantyo pun membantah bahwa film-filmnya sengaja kontroversi agar bisa menggaet pamor yang tinggi agar bisa ditonton oleh banyak penonton. Mengingat box office memiliki dua juta penonton di seluruh Indonesia. 

Berita terkini di Indonesia Hari Ini:
Lukman Sardi Pemain Film “Sang Pencerah” yang Pindah Agama Diduga Sudah Direncanakan
Bulan Puasa, Warga Maluku Dihebohkan dengan Temuan Air Laut Merah Darah
Sejak Dibuka Tol Cipali: 15 Kasus Kecelakaan, 3 Korban Jiwa, Polri Lakukan Investigasi
Tol Cipali Dibuka, Persaingan Angkutan Kereta dan Trvael Semakin Terlihat
Bulan Puasa Dihebohkan dengan Temuan Akun Instagram “Jual Bayi Murah”

Berita paling hangat di minggu ini:
Sejak Dibuka, 3 Kali Kecelakaan Sudah Terjadi di Tol Cipali
Ada Tiga Penyebab Dugaan Mengapa Kecelakaan di Tol Cipali Kerap Terjadi
Jalan Tol Cipali Rawan Dilalui Saat Malam Hari
Ini Kondisi 3 Rumah Usai Tawuran Antar Warga di Cirebon
Bulan Puasa, Tawuran Antar Warga di Cirebon Berakhir 1 Rumah Ludes Terbakar

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *