Home » Uncategorized » Memprihatinkan: Gagal Panen, Petani Asal Indramayu Alih Profesi

Memprihatinkan: Gagal Panen, Petani Asal Indramayu Alih Profesi

Berita Ekonomi – AsliCirebon.com, Gagal panen (puso) melanda ribuan hektare tanaman padi pada musim tanam gadu (kemarau) di Kabupaten Indramayu. Untuk dapat bertahan hidup, para petani, terutama buruh tani, beramai-ramai alih profesi.

‘’Pekerjaan apapun mereka lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup,’’ ujar Wakil Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang, Ahad (27/9/2015).

Sutatang mengatakan, para buruh tani melakukan berbagai pekerjaan, seperti pembuat bata merah, menjadi kuli bangunan, tukang becak, hingga merantau ke Jakarta. Meski hasilnya lebih kecil dibandingkan saat menjadi buruh tani, namun tetap mereka jalani demi bisa menafkahi keluarga.

Saat menjadi buruh tani, mereka bisa mendapatkan Rp 75 ribu per hari sampai Rp 100 ribu per hari. Bahkan ketika panen, selain mendapatkan uang, mereka juga memperoleh bagi hasil gabah dengan perbandingan 6:1 dengan pemilik sawah.

Contohnya, jika luas sawah satu hektare dan hasil panen sekitar 4,2 ton, maka buruh tani akan mendapatkan gabah sebanyak tujuh kuintal.

Salah seorang warga Kecamatan Krangkeng, Warnadi, mengaku terpaksa menjadi tukang becak setelah sawah di daerahnya dilanda kekeringan. Saat memperoleh banyak penumpang, dia bisa mendapatkan uang antara Rp 30 ribu – Rp 50 ribu per hari.

‘’Tapi kalau lagi sepi cuma bisa dapat Rp 15 ribu,’’ keluh pria yang memilih untuk mangkal di salah satu pasar tradisional di Kota Cirebon itu.

Sementara itu, di Desa Sukadedel Kecamatan Sindang, para petaninya beramai-ramai alih profesi menjadi pembuat bata merah. Mereka memanfaatkan tanah dari pinggiran sungai Cimanuk yang mengering akibat kekeringan.

‘’Kayaknya semua petani di sini jadi pembuat bata merah sejak musim kemarau tiba,’’ tutur salah seorang petani setempat, Wardiah (65).

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *